RSS

Category Archives: Puisi

Selaksa Embun

embun bungaMentari menyapa hangat

Wajah-wajah ceria membuncah

Binar mata berkata

Para senyum berkumpul

Selaksa embun

Hati bening seketika

Menyejukan

Membahagiakan

Penawar lara

Gelak canda menggema

Anak-anakku

Sahabatku

Lebih dari bahagia

Para senyum berkumpul

;Selaksa embun

CIMG2915

Advertisements
 

Sajak kecil tentang cinta

Karya : Sapardi Djoko Damono

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku

2love_wallpaper35

 
Leave a comment

Posted by on January 29, 2014 in Puisi

 

Bukumu

tumpukan buku

Aku ingin menjadi bukumu

Yang tiap malam menemanimu

Aku ingin menjadi bukumu

Yang tak jemu-jemu kau pandang

Aku ingin menjadi bukumu

Yang membuatmu nyaman dalam sepi

Aku ingin menjadi bukumu

Yang senantiasa kau ingat ceritanya

Aku ingin menjadi bukumu

Yang sesekali kau dekap dalam lelapmu

Aku ingin menjadi bukumu

Yang menceritakan tentang masa depan kita

 
1 Comment

Posted by on February 7, 2013 in Puisi

 

P.H.O.B.I.A [kehilangan]

phobia kehilangan

Aku dan takutku

Terseret direntang waktu sunyi

Bersama cercaan yang menghadang

Mengalun pilu

Aku dan takutku

Bukan pada yang selayaknya menemaniku

Mengalirkan sejuta kasihnya

Mendekapkan hangat peluknya

Aku dan takutku

Bukan padamu yang ku rindu

Mengusap kepalaku penuh lembut

Membacakanku sajak romantis

Aku dan takutku

Pada rindu cintaNya

Cinta yang menghembuskan ma’afku padanya

Cinta yang mengalirkan cintaku padamu

 
4 Comments

Posted by on February 4, 2013 in Puisi

 

Menghapus Jejakmu…

menghapus-jejakmu

Lara

Menghias dinding hati

Lara

Menari bersama memory

Lara

Menghujam dalam asa

Penghujung November

Dalam cawan lara hati

Pergilah

Enyahlah

Bulan baru milikku

Harus bahagia

make it simple

Say good bye [enough]

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2012 in Puisi

 

Puisi [Renungan]

Tuhan 9cm

Oleh: Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

selengkapnya

 
2 Comments

Posted by on November 26, 2011 in Puisi

 

(Rindu) Pelukan Ayah

Dalam dekapan subuh yang senyap

Bayangmu hadir menemani pesona fajar

Tanpa rasa, tanpa asa

Laksana daun yang berguguran

Ayah…

Semua bagai mimpi yang tak berujung

Lebih dari separuh usiaku

Merindukan pelukanmu

Ayah…

Semua goresan dihati tlah hilang

Menemukan mu tak lagi berada di ruang hati

Tanpa rasa, tanpa asa

Kehampaan yang kian membuncah

Menertawaiku

Menyusuri kesendirian yang kian pilu

Tenggelam dalam kenestapaan

Lereng Merapi, 3 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2011 in Puisi