RSS

Represing sejenak : Positive words

23 May

senjaSelepas rona merah di ufuk barat benar-benar tenggelam, saat yang tepat untuk refresing sejenak melepas penat seharian. Ada aje aktivitas yang kulakukan. Aktivitas paling standar adalah nempel di kasur sambil senam jempol. Tak jarang pula ngganguin ponakan yang lagi ‘anteng’ mainan atau nongkrong di depan tipi.

Selepas senja ini, seperti beberapa senja terakhir refresing sedikit berkualitas (berkualitas atau nggak bukannya relatip yak) -_-“

Represing adalah ketika target satu juz udah kelar, njuk’ headset nempel di kuping mengalun lagunya mocca sambil hahahihiii baca buku gokil.

Malam udah menyapa sedari tadi, ga ada buku go kiiil, ga ada komik pinjaman, ga ada buku baru, al hasil nyomot buku lama di rak.

Life keeps on turning-Now playing lagunya mocca yang jadi top hits pekan ini di blantika music kamar gw. :) 

Namanya lintang, wajahnya bulat dengan rambut berponi seperti Dora. Kalimat pertama yang ku baca di buku yang barusan keluar dari peraduannya di rak pojok kamar. Ini judulnya “Jangan diinjak, Lintang!” kisah tentang larangan berkata negatif pada anak. Jangan bilang “jangan” pada anak, kecuali untuk hal yang menuntut ketegasan tingkat tinggi, yakni perihal penghambaan pada Allah ta’ala. Seperti nasihat Luqman pada anaknya. (baca: QS. Luqman:13). Begitu kurang lebih penuturan di buku tersebut.

Membacanya kembali, mengingatkanku pada anak-anak disekolah, kelas Utsman pada khususnya. Nampaknya aku telah jatuh hati pada mereka. 12 jagoan dan 15 srikandi (haiiish, gak arjuna sekalian) yaah, 27 sholeh dan sholehah. Hampir genap dua belas purnama melewatkan waktu bersama mereka. Suka duka, suka??? Iyyalah pas ngeliat canda tawa mereka, duka?? Iyyalaah, ngelihat mereka berantem sampe berdarah-darah (-__-“)

Hihiii… gak kerasa udah selama itu, bentar lagi kita berpisah. Hiiks bertemu dan berpisah begitulah kiranya. Jasad boleh tapi hati, tunggu dulu🙂 Apalagi inget pas seorang shalihah berucap, “pokoknya aku mau kelas empat, lima, enam, SMP, SMA sampe kuliah diajarin sama bu Aeniiiiii” *meleleeeeh….

Photo0819

Pernah jua yang sholeh berucap, “kalo bu guru keluar aku ikut keluar” #eaa [meleleh lageee..].

Ahh.. mereka ini begitu polos. Ditengah mereka, bahagia itu sungguh sederhana. Seharian ngeliat senyum dan polah mereka yang ceria aja udah bahagia tingkat kabupaten *ehh. Begitu pula sebaliknya, sedih itu sederhana sekali. Kala itu, pernah sekali (moga kali pertama dan terakhir) seharian meskipun cuaca begitu cerah sedari pagi menjelang siang berburu anak yang kabur karna berantem dengan temennya sampai sore menjelang, masih ditambah sorenya seorang sholeh tertunduk menangis sendirian di depan gawang, sedang teman-temannya sudah rapi di masjid. Aiiiigh… takkan pernah terlupakan deh. Sempurnaaa, kataku hari itu. -_-‘

Tapi memang bener ni tulisan di buku percik gagasan, Jangan berkata “jangan” sama anak. Sepatoe [sepakat dan setujoe] gw dah buktiin. Kata negatif yang satu ini bener-bener membawa dampak tak baik buat mereka. Ada satu kejadian yang jadi pelajaran penting dalam dunia keparentingan [cieeee..] yang ku dapatkan saat belajar pada mereka. Ada seorang guru yang pernah ku dengar melarang anak-anak. Jangan naik disitu! Wal hasil kulihat reaksi kaget di wajah mereka dan seketika turun. Mungkin seketika itu kata-kata tersebut ajaib, namun berdampak buruk bagi perkembangan mental mereka.

Hari itu kita ada proyek membersihkan kolam dan seisinya. Isinya tentu aja ikan-ikan lucu yang menari-nari mengajak anak2 gw nyebur🙂 naaah, pas jam sholat dzuhur ada beberapa anak yang tak nampak di shaf sholat jama’ah di kelas. Gw dah curigation, jangan-jangan mereka ngikutin godaan para ikan buat nyebur perdana ke kolam. Daaan, tarrraaaa…ternyata bener. Pas gw paranin ke kolam, mereka lagi asiiik belepotan di tengah kolam berlumpur. Aiiiiiish, darah gw naiik. Secara mereka belum sholat dzuhur pakaian udah belepotan, belum jua makan siang. Langkah gw menuju kolam makin berat dengan gondokan di hati, sambil mendekat sambil mikir. “gw musti gimanaah” dalam hati. Semakin dekat ke kolam, mereka melihat gerakanku kearah mereka. Semuanya menatap ke arahku, harap-harap cemas.

Foto0764

“Haduuuuw, kok kalian udah nyebur ke kolam siiiy” protesku, “Kalian udah makan belum”?, tanyaku kemudian.”belum”, jawab mereka singkat. “naah lo, belum makan udah main nyebur-nyebur aja, ntar kalo masuk angin gimana, yang sakit siapa? Jelasku sembari mencoba menarik senyum satu centi ke kanan dan ke kiri🙂. “Kalian udah sholat dzuhur belum?”, tanyaku lagi. Jelas-jelas gw tau mereka belum pade sholat [tepok jidat]. “beluum”, jawab mereka kompak.”Naah, anak sholeh itu sholat dulu, makan dulu baru deh kita nyebur nangkep ikan bareng-bareng”, jelasku sembari menanti reaksi mereka. MashaAllah, diluar dugaanku mereka semua mulai menepi. “Iyaa bu, tapi bajuku udah belepotan gini gimana sholatnya” Tanya Arya [jagoan futsal]. “gampaaang, ada sarung di masjid, atasannya kan masih bersih ni” jawab gw sembari mengulurkan tangan, menaikannya dari jerembab kolam lumpur. Teman-temannyapun mengikuti. Aku tau, pegang pentolannya para followernya pade ikutan. Jagoan futsal ini emang kerap jadi trend setter bagi kawan-kawannya.

Saat pelajaran di kelas pula, ada anak yang asiik mainan mobil-mobilan mungilnya. Bisa saja keluar teguran. “Mas jangan mainan pada saat pelajaran nanti bu guru sita mainannya” bukan kalimat itu yang kupilih.

“Hayoo mas, mainannya mau di simpan sendiri atau bu guru simpanin? Ini masih jam pelajaran to?”, kriiik, “simpan sendiriiii”, jawabnya sembari memasukan mainannya ke dalam tas dengan senyum simpul di wajahnya.

Atau saat anak tetiba mogok ngga mau nulis. “Jangan malas nulis,nanti kalau ngga nulis ngga naik kelas” [memangnya kalo ngga nulis beneran ngga naik kelas yaa?]

think

Lain bila reaksi kita “Ayo yang mau naik kelas, nulis yang rajin. Ilmu itu kalo ngga di ikat suka melarikan diri, mudah lupa” [agak lebay dikit], “ayo mas, mau nulis sendiri atau buguru tulisiin? [sembari nunjukin sepidol white board di tangan]😀

“jangan begini, jangan begitu” memang kata yang praktis untuk melarang. Namun tak berdampak baik bagi anak.

Ketika mereka berbuat tak seharusnya, pilih kata yang tepat. Namun tetap tunjukan bahwa kita tidak senang dan perbuatan yang mereka lakukan. Ungkapkan dengan bahasa yang pas dan dapat mereka fahami alasannya secara tepat. Begitu pula saat mereka melakukan hal baik. Jangan segan-segan mengucapkan “kalian hebat sekali udah begini dan begitu”. Berikan alasan kenapa kita senang, kenapa kita sayang pada mereka. Intinya semua tindakan dan sikap kita pada mereka, mereka faham. Kenapa kita begini kenapa kita begitu. Sesuaikan dengan frekuensi bahasa untuk kefahaman mereka.utsman

Haiiish… ini hanya sepercik goresan. Ternyata gw belajar banyak dari mereka setahun ini. ahh.. muridku adalah guruku. Apakah kalian menyadari bahwa gw ini suka diam-diam memperhatikan kalian, mencuri ilmu dari kalian🙂 kalian yang begitu polosnya. Luv u all cz Allah..^_^

Ehh, malam sudah bertemu dengan larut. Lampu ruang tengah sudah padam. Angin malam menyapa, iseng bertanya padanya.. #tsaah gw pan ga tau bahasa angin malam (-__-“) zZzz…zZz..

Ruang asa, 22 May

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2013 in cawan inspirasi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: