RSS

Mana kaca mata pelangiku, mana..mana?

21 May

rainbow-sunglassesSemua terlihat menghitam, meski mentari masih memancarkan sinar terangnya, namun semua nampak hitam, pepohonan yang berdiri tegak terlihat hitam, kucing taman pun hitam, awanpun hitam pekat. Aku masih termangu dalam ayunan putih di dalam taman. Hari berjalan seakan melambat, detik berlalu penuh haru. Dada sesak menahan isak derita, terasa perih menghujam. Namun luka tak nampak kasat mata, sembilu tak juga beralih, melekat dalam hati. Rasanya ingin lari saja, lari sejauh-jauhnya.

Sepertinya aku membutuhkan perban kali ini, luka begitu parah. Ada goresan yang dalam. Parahnya lagi, sayatan luka itu kehujanan dan begitu terasa perih. Air hujan itu berasa asin. Periiih, sangat perih.

***

“Kau kenapa? Mengapa ada aliran air mata di pipimu?”.tanya ulat

“Ngga tau, tapi aku begitu sakit..sakit sekali”. Jawab semut hitam.

“Mana yang terluka?”. Sembari mengamati lekat-lekat tubuh semut hitam.

“Disini, di hati ini, luka yang tak kasat mata namun rasanya begitu kentara”.sahut semut hitam penuh yakin.

***

Hufft…pepohonan, kucing dan awan benar-benar nampak hitam. Bahkan tiap apa yang aku lewati semua nampak hitam. Makin menambah perih dalam hati ini. Semua berkecamuk menjadi satu, berujung pada penghakiman-penghakiman. Hari-hari yang buram kian menyelimuti. Kadang ku tertunduk sejenak, memejamkan mata, kadang berjalan menyusuri waktu tanpa arah, Kadang pula menghabiskan cup-cup isi es krim vanilla coklat atau berkunjung pada kesendirian hanya ditemani segelas cappuccino float.  Memang terasa nyaman, namun hanya sesaat. Sakit dan diliputi rasa gelap akan kembali menyergap bersama habisnya aroma coffee yang menguap.

***positive-thinking

“Aku seperti kehilangan kaca mata pelangiku, sepertinya ada yang mengambilnya dariku”. Semut hitam mulai berkisah. “Sepertinya ada yang tak menyukai ku, dan mengambil barang berhargaku”, lanjutnya.

“Kenapa bisa begitu, apakah kau yakin?”, Tanya sang ulat

“Tentu saja, mereka sepertinya berprasangka buruk padaku, betapa tidak, aku sangat disayang raja semut, padahal aku penghuni baru disini, siapa yang ngga iri melihatku”.

“Kau yakin itu?, Tanya sang ulat heran.

“Sepertinya begitu”.

“Tidak kah kau yang berprasangka buruk pada mereka?”.

“Kenapa bisa begitu?”

“Bisa jadi, bukan mereka yang berprasangka buruk padamu. Itu hanya perasaanmu saja, justru engkaulah yang berprasangka buruk pada mereka”, kau merasa sakit hingga berlinang air mata karena sebenarnya kau begitu menyayangi mereka, hanya saja kau dirundung prasangka buruk yang menghujam hingga kaupun tak bisa mengendalikan dirimu sendiri”.

“Benarkah?”, kata semut penuh heran.

“Tanyakan saja pada lubuk hatimu yang paling dalam, tempat sebenarnya sayatan luka itu bersemayam”.

***

Terkadang kita diliputi dengan perasaan yang membuat hati kita sakit, seperti ada sembilu luka yang begitu perih melanda. Perasaan yang membuat hari-hari kita terasa kelam, malas ngerjain ini dan itu, males pula bertemu dengan orang tertentu bahkan bertemu dengan semua orang. Bawaannya bad mood, muka dilipat sedemikian rupa sehingga nampak begitu kusut, tak nampak secercah semangatpun. Begitulah rasanya orang yang diliputi prasangka buruk. Parahnya lagi, seringkali kita tak menyadari bahwa kita sedang terjangkit prasangka buruk . Karna ia dibungkus dengan sejumlah alibi yang berujung atau tepatnya dipaksa bertemu di ujung pada pembelaan diri. Awalnya kita merasa seseorang atau beberapa orang bersikap tidak seperti biasa pada kita, hingga setan dengan begitu pintarnya mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Membisikan pada kita bahwa mereka tak menyukai kita, mereka bersu’udzon pada kita begini dan begitu. Padahal sejatinya, saat itu diri kitalah yang sedang bersu’udzon pada mereka. Mengira bahwa mereka bernegative thinking pada kita. Padahal kita lah yang sedang bernegative thinking bahwa mereka bernegative thinking pada kita.

think positiveKondisi ini akan bertambah parah bila kita menyuarakan rasa ini, rasa yang terasa sakit menghujam, rasa yang salah tempat dan waktu, rasa yang berujung rasa perih terpeleset dalam ghibah. Padahal semua itu hanya prasangka kita yang salah, seperti kisah semut yang menyangka teman-temannya tak menyukainya, padahal ia sendirilah yang membuat zonk-zonk prasangka itu. Tentu saja ghibah menjadi ujungnya ketika pada akhirnya prasangka buruk kita meraja.

Buang jauh-jauh kaca mata ribenmu, pake kaca mata pelangimu! Make it simple, Keep positive thinking ^_^

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in goresan pena

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: