RSS

Jagoan Futsalku

19 Jan

CIMG0900Pagi ini sinar mentariMu menyapa dengan lembut, menyentuh wajahku dengan begitu hangatnya. Pasca meliburkan diri sehari karna jasad tak mau diajak kompromi, jum’at inipun kembali ke sekolah. Dan, pagi ini pun melihat senyuman mereka membuat setetes bahagia singgah di hati. Setelah story morning usai, tatapanku terhenti pada sosok muram sang jagoan futsal kelas Utsman.

“Mas Arya kenapa, pagi-pagi udah manyun”, sapaku.

“Kok kemarin ngga berangkat bu?, aku kan bawa gitarnya”, jawabnya.

“Bu Guru minta ma’af mas, kemarin ngga bisa berangkat. Bu guru sakit”.

“Bu Guru jangan sakit yaa, yang sehat”. Tatapannya sempurna mengarah padaku.

Hari kemarin memang kita berencana mau bernasyid bersama, dia dengan semangatnya menawarkan diri untuk membawa gitar, meski ia berkata belum mahir main gitar. Yah, ada sepotong rasa sesal di hati, membuatnya kecewa. Permintaan ma’af ku sekarang mungkin ia terima tapi tak bisa menggantikan rasa kecewanya kemarin. Masih teringat jelas dalam memory, kala awal bertemu dengannya. Saat awal menjadi shadow teacher  akhir semester dua lalu, di kelasnya. Kala itu, kau adalah anak pindahan baru dari kota pesisir. Entah mengapa, dulu kau dikenal istimewanya karena enggan menulis, suka main sendiri dan hobi jailmu yang kerap membuat teman-temanmu menangis. Jujur, keistimewaanmu ini membuatku tertarik dan penasaran.

“Mas arya kok, belum menulis”, tanyaku saat pelajaran Bahasa, kala kau masih bersama kertas putih kosong dihadapanmu.

“Males”, jawabmu singkat.

“Ayoo, mas Arya sholeh… mau nulis sendiri atau ditulisin Bu Guruuu?”, kataku seraya menunduk, menatap wajahmu dengan memainkan board marker di tangan.

Setelah memandang ku dan menatap board marker di tanganku, kau pun dengan cepat menjawab.

“Nulis sendiriiiii”.

Ekspresimu memaksa senyumku terurai sempurna. Hari-hari berikutnya kita lalui masih dengan segala keunikanmu. Hingga teman-teman lain terkadang cemburu dengan kedekatan kita.

Tak kusangka, ternyata kau menceritakanku pada ibumu.

“Oh, ini to guru baru yang suka diceritain mas Arya”, sapanya saat parenting class.

“eh, nggih bu.. memangnya mas Arya cerita apa bu?”. Jawabku sedikit salting.

“Katanya, ibu…ibuu, ada guru baru suka aku gelitikin, cerita mas Arya sepulang sekolah sambil tersenyum”.

“hehee, iyya bu… saya juga suka membalas gelitikannya”, sambungku.

“Mas Arya itu model belajarnya, dia senang belajar kalau suasana hatinya senang. Jadi memang kalo lagi ngga mood musti di bikin happy dulu”.

Oh.. gitu to, bener siy selama ini menemaninya belajar di kelas memang seringnya seperti itu.

Daan ternyata di kelas 3 ini, menjadi wali kelasmu di kelas Utsman. Engkau yang beberapa kali mengatakan akan keluar jika aku keluar dari sekolah ini saat aku bercerita tentang keluarnya seorang guru. Terimakasih anakku, sahabatku, guru kecilku. Engkau dan segala keunikanmu, menjadi pelajaran berharga bagiku yang masih belajar ini.

[#eh, siang kemarin kau bilang mendukung Arsenal di big match besok..ma’af untuk yang satu ini kita tak sehati #theblues🙂 ]

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: