RSS

Elegi Januari

10 Jan

dad-17“Aaaaargh… sakiiiit”. Teriak gadis kecil yang jatuh tersungkur bersama sepeda mini merahnya. Tangispun menggema di pelataran rumah tanpa taman.

“ngga papa nduk?” Tanya seorang nenek sembari mendekat pada sang gadis. Dipeluknya gadis kecil, dan dibersihkan kaki, tangan dan bajunya yang kotor oleh debu tanah dengan tangan tuanya.

Masih dalam tangisnya, digendonglah cucu perempuan menuju rumah.

“Bapak mana mbah?” Tanya gadis kecil dalam sesenggukan tangisnya. Sejenak senyap menyapu bibir sang nenek, tak terdengar ucapan menenangkan lagi.

“Bapak mana mbah?” terbata gadis kecil itu kembali melontarkan pertanyaan lirihnya.

“Bapak pergi nduk”, jawab singkat Perempuan 80 tahun sambil mengusap kepala cucunya.

“Kenapa ngga pulang-pulang”?, tangisnya mulai reda. “Kalau ada bapak, pasti aku ngga jatuh. Bapak kan suka jagain aku dari belakang sepeda”, lanjutnya dengan air mata yang masih Nampak di pipi.

Pasca peristiwa itu, mendung meyertai kehidupan sang gadis kecil, hari-harinya berlalu dalam kebosanan sebuah pertanyaan “Bapak dimana?” hingga lelahpun menghampirinya.  Hidup tanpa kasih sayang seorang ayah dengan Ibu yang  nyaris siang hari  alpha menemaninya demi memenuhi kebutuhan hidup. Beruntung  masih ada simbah yang menjaganya.

Sepotong memori itu yang masih tersisa, selebihnya merasa tanpa rasa. Terimakasih Bapak, telah mengajari kami ketegaran dan kesabaran dalam menghadapi hidup.

***

kasih-sayang-bunda-sepanjang-hayat2Setiap pagi  sebelum pergi bekerja, ibu senantiasa membuatkanku segelas susu coklat. Dengan diantar mbak sepupu yang tak lain anak angkat ibu,  aku pergi ke sekolah. Siang hari hingga menjelang sore dengan setia simbah menemaniku di rumah, atau aku akan bermain bersama teman-teman. Begitu ritme sehari-hari. Masih lekat dalam ingatanku, saat engkau memarahiku karna pulang senja hari dengan pakaian kotor.

Ketika dewasa menjelang, Saat masa-masa sulitku datang, belaian kasihmu tak pernah alpha. Bahkan ketika berturut-turut peristiwa yang menimpaku, nyaris terenggut nyawa, ujian demi ujian yang datang, engkau hadir menata kasih. Wajah sedihmu, raut marahmu, rona bahagiamu telah mengisi relung hati ini.  Aku dan ibu hidup di zaman yang berbeda, dua waktu yang saling mengejar sekaligus saling menjauhi  tanpa kita bisa menghindarinya. ma’afkan aku yang seringkali tak memahami bahasa kasih sayangmu.

Ibu… kini gadis kecilmu sudah besar, terimakasih atas setiap peluh, setiap rasa, setiap detik, setiap pengorbanan yang engkau berikan. Hutang yang tak akan pernah lunas ini semoga kelak menjadi perhiasanmu di JannahNya. Aamiin..

Love you coz Allah,

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2013 in goresan pena

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: