RSS

Kulit pisang itu…

14 Sep

“Heyy..ini kulit pisang siapaaaa?”[teriak habis-habisan karena tak habis pikir menemukan pemandangan yang tak sedap dilihat].

Kenapa ada dalam kamarku? Siapa aja yang tadi masuk kamarku? Dasar tak beeerperi kemalaikatan [kalau manusia pasti jelas jawabnya, tempat salah dan lupa].

Pokoknya aku ngga mau mbuangin, bodo amat, Amat aja ngga bodo [followersnya Amat].

Dan akhirnya kulit pisang itupun tetap nyaman, di posisi sediakala saat awal kali melihatnya. Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, banyak hari kulit pisang itupun masih PW berada disana. Namun apanya terjadi, tiap detik, menit, jam yang terus berlarian berkompetisi tiada henti ada yang berubah dari kulit pisang itu. Ia berubah warna, bukan karna dikasih pewarna kain ataupun cat tembok yang berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan penderita paru-paru. [kaya peringatan basa-basi di bungkus rokok aja].

Ternyata kulit pisang itu tlah berubah warna jadi item, dan teksturnya pun sudah ngga enak di liat. Tak berbentuk, membusuk hitam legam. Dan ironisnya lagi, selain berubah warna, ia juga menimbulkan bau yang ngga enak. Bahkan untuk mendekatinya saja malesnya setengah mati. Membuat seisi ruangan menjadi pengap, penuh bau kulit pisang yang membusuk. Dan ternyata kulit pisang itu meninggalkan noda.

Kisah kulit pisang yang membusuk di kamar pun untuk sekian waktu senantiasa menemani kita. Saat ngumpul dengan temen-temen satu gank, kisah kulit pisang itupun hadir. Saat menunggu antrian makan di kantin, menanti dosen datang, nongkrong di sudut kampus kisah itu mewarnai hari kita untuk kurun waktu yang tak terbatas. Seakan jadi top story, hingga tak heran bila seantero negeri mengetahuinya.

Begitulah…

Seringkali kita membiarkan seonggok ‘kulit pisang’ di ruang hati kita. Hingga ia membusuk dan membekas di lubuk hati. Kulit pisang itu banyak jenisnya, sesuai isinya. Kulit pisang itu bernama rasa sakit hati, kecewa, benci, iri dan sejenisnya. Seringkali pula kita enggan membuangnya hingga ia pun membusuk dan membekas. Kita malah membawanya kemanapun kita pergi, menyertakan dalam setiap aktivitas kita dalam kurun waktu sekian lama. Membiarkan rasa sakit hati itu membekas mendekam hati. Hingga tak jarang orang disekitar kita pun ikut menjadi korban. Seperti kulit pisang yang kita enggan membuangnya. Bisa jadi orang lain terpeleset saat menginjaknya tak sengaja. Atau mencium bau tak sedapnya saat ia sudah membusuk. Belum lagi tiba-tiba ada perkumpulan Ad-hoc yang membahas aroma kulit pisang, disana dan disini, menyebar begitu cepat. Hadeeew, berasa ngga pernah buang kulit pisang sembarangan🙂

Waktu tak bosan-bosannya berlari hingga ruang tengah kostan tertempel pengumuman besar “Attention please, jangan sembarangan buang kulit pisang!!. Gak perlu tuding sana tuding sini, tapi musti bijaksana dan bijaksini. keep Tabbayun!!!”

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2012 in goresan pena

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: