RSS

Mengukir sejarah dengan pena

27 May

Tulisan lama, di muat di rubik opini harian Satelit pos 15 Maret 2012.Moga bermanfaat🙂

Menulis adalah suara nurani. Menulis segala apa yang menjadi perhatian, dan ketertarikan kita. Biasanya sesaui dengan basic si penulis, penulis yang berasal dari kalangan sosial akan cenderung tertarik menulis hal-hal yang bersinggungan dengan aktivitasnya atau yang menjadi fokus perhatiannya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan seseorang menulis diluar pengaruh komunitas atau lingkungan dia berasal. Sebenarnya tidak sebatas menyuarakan suara nurani kita saja, menulis bukan semata mata menghasilkan tulisan yang menarik, tetapi menghasilkan tulisan yang memiliki manfaat. Ada value yang dibawa pada tulisan kita. Nilai yang ingin kita sapaikan pada khalayak ramai.

Pernyataan menarik dituliskan Buya Hamka, Kekajaan apakah jang akan kuberikan untuk memupuk revolusi ini? padaku hanja dua, pertama lidahku, kedua penaku.” Sementara itu Abdullah Azzam menuliskan, ”Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama dan merahnya darah para syuhada.” Begitu hebatnya kekuatan tulisan, hingga dapat mengubah mindset bahkan perilaku seseorang. Menulis adalah perjuangan, dan senjata yang kita punya adalah pena. Maka angkatlah pena kita sebagai bentuk perlawanan kita pada setiap kedzoliman.

Tidak ada lagi alasan untuk tidak menjadikan aktivitas menulis sebagai habitus kita. Aktivitas menulis adalah tradisi para intelektual muslim. Adapun Tujuan menulis seperti yang disampaikan oleh Hendra Sugiantoro, pegiat pena profetik. Ada lima tujuan menulis, bagi jurnalis profetik, pertama, menulis untuk mengikat ilmu. Tidak heran bila sahabat Ali bin Abu Thalib mengatakan, “ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.” Yang kedua, menulis aktivitas untuk menyampaikan ilmu. Sampaikanlah ilmu, meskipun satu ayat. Banyak pilihan dalam menyampaikan ilmu, salah satunya dengan aktivitas menulis. Ketiga, menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf). Menulis untuk mengajak orang lain pada kebaikan. Keempat,  mencegah kemungkaran (nahi munkar). Menulis sebagai bentuk protes dan ketidak sepakatan pada kondisi atau sesuatu hal. Kelima, menenguhkan keimanan manusia.  Menulis untuk mengarahkan kehidupan pada kesadaran ketuhanan. Menuliskan fakta-fakta kebesaran Tuhan yang seringkali manusia tidak menyadarinya.

Dengan menulis membuat kita memiliki kunci cakrawala dunia. Aktivitas menulis telah membuat Habiburrahman El-Sirazy menjelajah seantero negeri, mengukir jejak di belahan dunia lain. Membuat seorang Andrea Hirata menjadi tokoh femomenal di dunia kepenulisan dengan karyanya yang menggugah seluruh negeri. Begitulah, menulis telah menjadi pilihan aktivitas perjuangan para pejuang pena. “Maka amat naif jika umat Islam merasa enggan untuk terjun ke kancah dunia jurnalistik, kecuali kalau kita menunggu kembalinya penjajah berdatangan dengan pena dan tinta mereka,”(Amilia Indriyanti, 2006). Bahkan Faudzil adhim mengatakan bahwa setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban.

Menjaga Tradisi Menulis                                                                          

Dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan masyarakat,”  (Salim Akhuhum Fillah). Apalagi bagi seorang mahasiswa, yang notabene sebagai agent of change. Penting sekiranya kita mulai berkontribusi melalui daya intelektual kita, sebelum nantinya benar-benar turun di tengah masyarakat. Menulis bukan persoalan bakat, tetapi soal ketekunan dalam mengasah tulisan.

Mohammad Fauzil Adhim (2005:81), mengungkapkan bahwa, “Kata itu pedang lincahnya menggunakan karena biasa, runcingnya ujung karena terasah, tajamnya ayunan di setiap sisi karena ilmu dan hidupnya jiwa.” Menulis bukan sekedar perkara menghasilkan tulisan yang menarik dan berkualitas. Akan tetapi, menulis untuk menghasilkan tulisan yang memiliki manfaat. Tulisan yang memiliki rasa kebermanfaatan bagi pembaca inilah sebenar-benar tulisan.

Menjaga tradisi menulis membutuhkan komitmen dan konsistensi yang tinggi. Keberhasilan menulis bukan hanya sekedar ketika tulisan kita di muat. Namun juga hasil kerja keras dan proses menuangkan tulisan. Maka janganlah mudah putus asa ketika banyak artikel yang belum dimuat di media massa. Ada beberapa kemungkinan mengapa tulisan kita belum dimuat. Pertama, keberuntungan belum berpihak pada kita. Kedua, redaktur sedang menguji daya tahan dan kesabaran kita. Ketiga mungkin kita perlu mengasah lebih runcing pena kita.

Pada akhirnya, tidak ada kata menyerah. Menulislah, perbanyak membaca dan berdiskusi. Jangan mudah berputus asa. Tidak ada jurus ampuh yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga!!! Selamat menulis, optimis sampai finish. Wallahu’alam

 
1 Comment

Posted by on May 27, 2012 in goresan pena

 

One response to “Mengukir sejarah dengan pena

  1. abine Nasyaa

    September 18, 2012 at 1:19 pm

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuu…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: