RSS

Ada cinta di Kelas Umar [part 1]

27 May

Alhamdulillah masih berkesempatan mengukirkan sejarah pada lembaran-lembaran blog ini setelah sekian lama vakum dari dunia per blog-an🙂. Ini kisah tentang rumah ke dua ku, SDIT Alam Harum. Ghazy, begitu teman-teman memanggilnya. Anak sholeh kelas 3 Umar bin Khattab yang pinter banget ngeles’. Tak usah ditanya lagi soal keahliannya yang satu ini. Hampir seluruh guru yang pernah memasuki kelas ini mengetahuinya. Tak jarang tabiatnya ini membuat emosi para guru naik turun. Ia anak yang aktif, excellent tentu saja. Hafalannya diatas rata-rata temennya. Tapi yaa itu, ia menjadi master of ngeyel.

Masih teringat jelas saat kali pertama ku memasuki kelasnya mengampu PKn. Saat itu materinya adalah aku bangga menjadi anak Indonesia. Sontak lengkingan suaranya sampai melewati celah-celah dinding bambu kelas.

“Pkn ngga seruuu, aku ngga bangga jadi anak Indonesiaaaaa”, Serunya.

“Iyaa ngga seruu, membosankan”, sahut temannya. Seketika riuh suara memadati seisi kelas.

Ia menjadi provokator handal dalam banyak hal, tak hanya soal pelajaran, saat makan siangpun demikian. Huuft… tak bisa ku pungkiri, sempat juga down mendengarnya. Secara, aku menggelutinya empat tahun lebih. Dan selama itu pula, tak pernah terpikir oleh ku untuk menghadapi para kurcaci kecil seperti ini. Wajar saja, PKn yang sebagian besar materinya bersifat kognitif harus menyapa anak-anak di SDIT Alam yang memadukan konsep Islam, alam dan materi pelajaran. Ini tantangan baru, batinku.

“Kenapa ngga suka?”, tanyaku.

“PKn banyak nulisnya, bosan”, “aku ngga bangga jadi anak Indonesia”, lanjutnya.

“Kenapa ngga bangga?” tanyaku kembali.

“Banyak orang jahat, membunuh, suka korupsi”, jawabnya.

“Makanya, kalian musti jadi anak yang sholeh dan sholehah yang cinta ibu pertiwi”.

“Ibu pertiwi?”, Tanya nya.

“Iya, Indonesia adalah sang ibu pertiwi”.

Waktu terasa begitu lambat saat itu [maklum, perdana :)]

***

Pekan depannya kuputuskan untuk mengisinya dengan menonton video bareng. Video-video dari KPK dan video lain yang menggambarkan fenomena di tengah masyarakat. LCD tlah dibentangkan, mereka diminta menulis hikmah tiap video. Hingga di penghujung waktu pelajaran, mereka menuntut untuk menonton film hafalan sholat delisa [sebelumnya memang aku menjanjikannya]. Dan akhirnya, kita nonton bareng…lagi seru-serunya pas delisa ujian sholat, bel tanda pulang terdengar. Namun ketika kulihat, mereka serasa mengindahkannya. Wajah polos mereka masih tertuju pada layar besar di depan. Hingga sang wali kelas harus turun tangan, pasalnya para penjemput mereka sampai naik ke kelas kami di lantai 2 karena putra-putrinya tak kunjung turun.

***

Jum’at lalu adalah hari terakhir pelajaran PKn, materi sudah habis. Kali ini kita membawa lembaran-lembaran kertas HVS kosong. Ku sampaikan kalau hari ini kita akan berpetualang. Sontak wajah sumringah mereka membuncah.

“Silakan kalian bereskan tas dan barang-barang kalian, sisakan pensil dan penghapus, kita akan berpetualang dalam “Civic Adventure”.

Anak-anak di bagi menjadi 4 kelompok. Dua kelompok putra dan dua kelompok putri. Masing-masing berhitung satu sampai dua. Kelompok satu berkumpul dengan kelompok satu, kelompok dua berkumpul dengan kelompok dua. Begitu pula dengan yang putra. dan lembaran kertas pun dibagi. rule nya masing-masing ketua kelompok mendapat satu lembar peta civic adventure dan harus menemukan pos [bertulis klu letak pos] pada peta dan menaklukan rintangan di tiap pos.

Ada empat pos yang harus di taklukan, di tiap pos berisi soal-soal PKn, rangkaian materi satu semester. Petualangan dimulai dengan tebak-tebakan, kelompok mana yang bisa menjawab, berangkat duluan.

***

Belajar dan membelajarkan, karna “Gurunya manusia adalah pembelajar seumur hidup” [Munif Chatib]. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, ada decak kagum pada mereka, para jagoan kecil beserta dengan keunikan masing-masing. Butuh waktu untuk mengikhlaskan dan mengazzamkan diri untuk memulai mendaki tangga mimpi di kota perwira ini. Teringat ungkapan Anis Matta, “Para pencinta sejati tak suka berjanji, tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai mereka akan segera membuat rencana untuk memberi”. Kjtjk hingga ujung waktu untuk kalian🙂

 
3 Comments

Posted by on May 27, 2012 in cawan inspirasi

 

3 responses to “Ada cinta di Kelas Umar [part 1]

  1. abine Nasyaa

    September 18, 2012 at 1:00 pm

    Assalamu’alaikum…bu Aeni,ijin comment dikit y…tulisannya ok, asyik diikuti n mengalir bagai air…cuma ada sdkt kata2 yang ‘mbingungke’ apa q yg kurang gaul y? hi3
    n bukannya klas Umar kls IV bukan kls III.?..Betul??!!

    Jazakaumulloh …

     
    • hawariyyun

      September 20, 2012 at 1:49 am

      wa’alaykumussalam…yupp..kelas umar pak😀

       
  2. catatan ngajar

    November 21, 2012 at 6:31 am

    inspiratif..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: