RSS

Volkgeist dan Diskursus Keistimewaan Yogyakarta

04 Jan

Hukum itu tidak dibuat, tetapi tumbuh dan berkembang bersama masyarakat (das Recht wird nicht gemacht, est ist und wird mit dem Volke). Von Savigny seorang tokoh pemikir filsafat hukum dari mahzab sejarah berpandangan bahwa di dunia ini terdapat bermacam-macam bangsa yang pada tiap-tiap bangsa tersebut mempunyai suatu Volkgeist (jiwa rakyat). Jiwa ini berbeda-beda menurut waktu maupun menurut tempat. Pencerminan dari jiwa yang berbeda ini tampak pada kebudayaan bangsa yang berbeda-beda (Lili Rasjidi. 1996: 69). Jadi hukum sangat bergantung atau bersumber pada jiwa rakyat dan apa yang menjadi isi/materi hukum itu ditentukan oleh pergaulan hidup manusia dari masa ke masa (sejarah). Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan volkgeist (jiwa rakyat). Benarkah, keistimewaan Yogyakarta adalah pengejawantahan Volkgeist Yogyakarta?

Diskursus Keistimewaan Yogyakarta

Keistimewaan Yogyakarta harus dilihat secara lebih komperhensif. Keistimewaan yogyaarta bukan hanya untuk Yogyakarta tapi juga untuk NKRI. Yogyakarta memiliki beberapa keistimewaan yang sampai bertahan hingga saat ini, diantaranya keistimewaan dalam hal penetapan Gubernur dan Wakil gubernur, keistimewaan dalam hal kepemilikan tanah dan dalam hal kebudayaan. Keistimewaan inilah yang selama ini berjalan dan dilestarikan. Bahkan dasar filosofi pelaksanaan pemerintahan DIY apabila ditelaah nilai yang terkandung di dalamnya memiliki makna akan visi ke Indonesiaan yang lebih konkret. Hamemayu Hayuning Bawono, berarti melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat dari pada memenuhi ambisi pribadi. Suatu cita-cita yang luhur dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Secara historis, tidak bisa dipungkiri bahwa Yogyakarta memiliki kontribusi besar dalam pembentukan NKRI. Yogyakarta merupakan bagian dari sejarah survivalitas Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara. Terbentuknya DIY secara defacto sejak konsesus politik dengan dikeluarnya piagam kedudukan Sri Sultan HB XI  dan pangeran Adipati Ario Pakualam VIII oleh Soekarno serta amanat Sri Sultan.

Secara yuridis formal, status Yogyakarta dalam ranah ini telah berubah dari daerah swapraja menjadi sebuah daerah yang bersifat istimewa. Di dalam teritorial NKRI, keistimewaan ini lebih lanjut kemudian dijamin dalam konstitusi pasal 18B ayat 1 UUD 1945 bahwa negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yangg bersifat khusus atau istimewa yang diatur dengan Undang-Undang. Disamping itu juga dalam UU no. 32 tahun 2004 pasal 2 ayat (8) yang menyatakan bahwa negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-Undang.  Dengan adanya konstitusi ini, keistimewaan Yogyakarta berada dalam level yuridis. Menurut Cornelis Lay apabila produk yuridis merupakan suatu konsesus politik maka Undang-Undang tersebut menggambarkan adanya pengakuan dan penerimaan politik mengenai status keistimewaan Yogyakarta.

Proses demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia nampaknya telah membawa sedikit banyak perubahan dalam tatanan kehidupan bangsa. Tidak hanya peran dan fungsi saja akan tetapi pada struktur negara mengalami perubahan yang signifikan. Atas nama demokrasi inilah Diskursus Keistimewaan Yogyakarta mulai marak diperbincangkan. Bahkan terlontar pernyataan akan Yogyakarta yang monarki oleh presiden SBY. Sorotan utamanya pada persoalan penetapan Gubernur dan Wakil gubernur.

Dalam perspektif teori konflik Geertz, diskursus dalam masyarakat tentang bagaimana keistemewaan Yogyakarta dari aspek politik terjadi karena adanya suatu konflik yang terjadi akibat pencampuradukan kesetiaan politik dengan kesetiaan primordial. Masyarakat Yogyakarta menginginkan sultan menjadi gubernur mereka karena sesuatu yang bersifat alami. Dukungan masyarakat tidak didasarkan atas pertimbangan rasional (seperti penilaian kinerja). Tapi lebih pada pertimbangan emosional perasaan. Tentu saja cara ini tidak tercipta pengawasan politik oleh rakyat. Tidak ada ruang bagi masyarakat untuk berkompetisi. Rekrutmen gubernur dengan penetapan merupakan suatu jabatan otomatis yang tidak demokratis dari sisi prosedur, tidak ada check and balance didalamnya.

Masyarakat menganggap bahwa keistimewaan yogyakarta itu sangat identik dengan Sultan menjadi Gubernur dan pakualam menjadi wakil gubernur yang dipilih melalui penetapan. Padahal, seperti yang telah disinggung diatas bahwa keistimewaan ini hendaknya diartikan secara substantif. Cornelis lay mengemukakan bahwa keistimewaan Yogyakarta itu ada karena berbagai alasan mulai dari yang siatnya filosofis, konstitusional, sampai dengan alasan yang sifatnya sosiologis, sejarah dan komparasi dengan pengalaman negara lain. Istimewanya Yogyakaarta itu berlapis-lapis. Lapisan yang paling dasar adalah kontrol atas ruang dan tanah, kemudian diatas itulah kebudayaan itu terbentuk. Apakah betul dengan keistimewaan itu yogyakarta mendapatkan kondisi dan kehidupan masyarakat yang betul-betul istimewa. Namun pada kenyataannya hanya sekedar prosedur saja yang kekmudian dipersempit menjadai penetapan atau pemilihan padahal esensi keistimewaan jauh lebih besar.

Apabila pemilihan gubernur oleh DPRD dan partai telah merepresentasikan pilihan masyarakat maka itulah yang dinamakan demokratis. Namun yang terjadi partai juga belum merepresentasikan kepentingan rakyat, pemilihan langsung juga memiliki keterbatasan. Demikian pula dengan penetapan Gubernur dan wakil gubernur, Sesuatu yang diambil secara aklamasi mayoritas masyarakat tentunya merupakan bagian dari wujud demokrasi. lantas apakah hal tersebut sudah merepresentasikan Volkgeist (jiwa rakyat) Yogyakarta?

Sumber :

Cornelis Lay, Pratikno, AAGN Ari Dwipayana dkk. 2008. Keistemewaan Yogyakarta:Naskah akademik dan RANCANGAN UNDANG-UNDANG Keistimewaan Yogyakarta. Yogyakarta:JIP Fisipol UGM dan program S2 politik lokal dan otonomi daerah.

Rasyidi, Lili. 1996. Dasar-dasar Filsafat Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Eny Kusdarini. 2003. Hand Out Filsafat Hukum. Yogyakarta

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2011 in artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: