RSS

Tayangan miskin pendidikan

03 Nov

SUNGGUH miris melihat tayangan-tayangan televisi Indonesia saat ini.

Tayangan-tayangan yang beredar sebagian besar bisa dikatakan tidak mendidik, bahkan aroma kekerasan sangat kental. Hal ini tentu saja patut mendapatkan perhatian yang serius karena tayangan di televisi sangat berpengaruh pada pembentukan visi dan karakter seseorang.

Jika kondisi sekarang yang ada hanyalah tayangan-tayangan sarat kekerasan dan gaya hidup hedonis tentunya hal ini akan mewakili jiwa zaman (zeit geist) sebuah bangsa. Tayangan televisi yang miskin pendidikan tentunya akan membawa dampak yang serius pada kehidupan generasi mendatang. Bahkan, tanda-tanda kebobrokan itu sudah mulai muncul.

Telah banyak generasi muda, khususnya anak-anak, yang sangat terpengaruh dengan tayangan di televisi. Sebagian besar anak penghuni lembaga permasyarakatan anak bukanlah karena kasus pencurian, namun kasus pemerkosaan dan kekerasan. Ada peran dari tayangan yang mereka konsumsi dengan adanya fakta tersebut.

Sungguh tak bisa dibayangkan apa jadinya generasi muda bangsa ini bila tayangan-tayangan yang dikonsumsinya miskin pendidikan. Kekerasan dan gaya hidup hedonis yang kerap muncul membuat mereka terbuai dalam angan yang tinggi dan mencobanya di kehidupan nyata. Tentu saja hal ini akan semakin menambah daftar permasalahan yang dialami bangsa.

Anak-anak yang perkembangan otaknya sedang berlangsung kurang mendapatkan tayangan yang mendukung dan kaya akan pendidikan, namun tayangan miskin pendidikan. Pemerintah tentu saja tidak boleh membiarkannya berlangsung terus menerus karena kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu saja bila tidak segera diatasi.

Pemerintah harus lebih ketat lagi menyaring tayangan-tayangan yang akan di konsumsi publik. Karena menyangkut masa depan bangsa, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Kebobrokan moral anak bangsa dipertaruhkan. Tayangan-tayangan yang miskin pendidikan akan menumpulkan otak mereka. Tayangan-tayangan tidak mendidik yang mereka konsumsi sehari-harinya akan membahayakan.

Nilai pendidikan yang sangat minim dalam tayangan televisi, bahkan sebagian besar adalah budaya-budaya barat (yang tidak baik), pergaulan bebas, dan kekerasan tentu saja tak ramah bagi perkembangan anak.

Kondisinya akan lebih parah lagi bila televisi dengan tayangan yang miskin pendidikan dijadikan sebagai baby sitter bagi anak-anak usia dini, karena para orang tua mereka sibuk. Tanpa pendampingan orang tua, mereka akan begitu saja menelan mentah-mentah apa yang mereka saksikan di layar kaca.

Tidak heran bila dikemudian hari mereka berani melawan orang tuanya, bergaul secara bebas, dan melakukan hal-hal buruk yang tidak pernah orang tua ajarkan. Orang tua memang tidak pernah mengajarkan, tetapi dari tayangan televisilah mereka belajar. Untuk mengatasi dampak buruk dari tayangan miskin pendidikan dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat secara umum.

Oleh karena itu, mulai dari diri kita sendiri mulailah intensif membimbing generasi penerus bangsa, terutama yang masih usia dini. Pendampingan dalam mengonsumsi tayangan-tayangan di layar kaca hendaknya dilakukan. Menjadi harapan kita bersama agar tayangan-tayangan di layar kaca mampu memberikan pendidikan bagi generasi muda penerus bangsa. Wallahualam.

 
Leave a comment

Posted by on November 3, 2009 in artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: