RSS

Menyoal Eksistensi Politisi Perempuan

13 Mar

Bergulirnya Era Reformasi menjadi angin segar bagi kaum perempuan untuk terjun dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Betapa tidak, selama ini peran politik kaum perempuan masih sangat minim. Berbagai kendala seperti kultur yang berkembang di masyarakat, budaya patriarkhi yang mengakar dan mendominasi dalam segala aspek kehidupan, perempuan yang masih dipandang sebelah mata karena mengutamakan perasaan sehingga jauh dari sikap rasionalitas. Pandangan-pandangan demikianlah yang selama ini melekat dan telah terstruktur di negeri ini.

Tidak heran apabila kebijakan-kebijakan yang dikeluarkanpun cenderung mengabaikan persoalan perempuan, jaminan sosial, kesehatan reproduksi dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Berbagai permasalahan yang menyangkut perempuan seperti eksploitasi perempuan, jaminan kesehatan ibu hamil dan melahirkan, perdagangan perempuan, kekerasan terhadap perempuan, persoalan TKW yang seringkali mendapat perlakuan tidak manusiawi, pendidikan kaum perempuan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya masih menjadi polemik besar di Indonesia.

Dalam ranah inilah, dibutuhkan adanya partisipasi politik perempuan. Peran besar perempuan dalam membenahi dan mempengaruhi berbagai kebijakan yang akan dilandingkan telah menjadi hal yang penting. Untuk itulah eksistensi politisi perempuan di lembaga legislatif menjadi faktor penting dalam mewujudkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh kaum perempuan. Apalagi sudah lama perempuan mengalami keterjajahan di bidang pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh (Media Indonesia, edisi 11 okt 2010).

Kebijakan kuota 30% keterwakilan perempuan yang dituangkan dalam Undang-Undang Pemilu No.10 tahun 2008 menjadi langkah konkrit dalam melibatkan perempuan di dunia perpolitikan Indonesia. Sumbangan terbesar perempuan berpolitik adalah karena kepeduliannya yang besar atas nasib rakyat, bukan karena naluri memperkuat jaring-jaring kekuasaan (Dorothy W Cantor and Toni Bernay, Women in Power, the Secret of Leadership).

Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa, posisi perempuan hampir di seluruh belahan dunia tidak terwakili secara proporsional dalam politik. Perempuan menduduki hanya 14,3 persen dari keseluruhan anggota parlemen. Negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, dan Denmark) memiliki tingkat keterwakilan perempuan paling tinggi, yaitu mencapai 40 persen, sedangkan jumlah terendah diduduki oleh negara-negara Arab, sekitar 4,6 persen (International Idea, 2002).

Sementara di Indonesia, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10/2008, calon legislatif dari perempuan masih berkompetisi di arena pemilu, bersaing dengan laki-laki. Undang-Undang No.12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Undang-Undang Pemilu) yang memuat penerapan kuota 30 persen bagi calon anggota legislatif perempuan . Hal ini tercantum dalam Pasal 65 ayat (1). ”Setiap partai politik peserta pemilu dapat mencalonkan anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%”.

Hasil pemilu 2009 memperlihatkan peningkatan jumlah anggota perempuan DPR RI dari 65 perempuan dari 550 anggota (11 persen) pada 2004-2009, menjadi 103 perempuan dari 560 anggota (18 persen) (Majalah Tempo edisi 20-26 Desember 2010 Hlm.18). Akan tetapi angka ini masih jauh dari cita-cita 30% keterwakilan perempuan.

Dengan adanya perwakilan 30 persen perempuan di parlemen, diharapkan akan bisa menyuarakan banyak kepentingan perempuan. Jangan sampai hal yang menyangkut kepentingan perempuan kandas karena keputusannya didominasi oleh kaum laki-laki. Dengan adanya kouta 30% bagi perempuan dalam keterlibatannya dalam parlemen, tentu saja setidaknya ada ruang untuk menyuarakan kepentingan perempuan karena sebenarnya ada beberapa kebijakan yang perlu diambil berdasarkan perspektif perempuan. Namun yang menjadi pokok permasalahannya sekarang adalah, apakah dengan  jumlah 30% itu sudah benar-benar dapat menyuarakan aspirasi perempuan. Apalagi posisi perempuan dalam tubuh parlemen itu sendiri terikat pada kepentingan parpol yang menaunginya.

Tentu saja kenyataan ini menjadi polemik yang terus berlanjut. Belum lagi persoalan kualitas. Partisipasi mereka di bidang politik selama ini masih dipandang hanya memainkan peran sekunder. Alasannya karena persoalan kapasitas yang dimiliki oleh para politisi perempuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa sedikitnya kuantitas politisi perempuan yang mempunyai pengetahuan yang luas mengenai berbagai persoalan publik yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Perjuangan kaum perempuan tidak berakhir ketika memasuki kursi legislatif. Bukan hanya sekedar mengisi kuota 30% yang sudah disediakan. Akan tetapi menjadi langkah awal perjuangan yang sebenarnya. Perlunya kaum perempuan dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, oleh karena banyak kebijakan yang diambil selalu merugikan kaum perempuan. Issu tentang keikutsertaan perempuan dalam membela hak-haknya disebut dengan isu gender. Gender adalah perspektif, oleh karenanya konstruksi gender berangkat dari perspektif perempuan. Disinilah peran itu dipegang, seberapa kuat para politisi perempuan menyuarakan kepentingan yang selama ini mereka anggap masih diabaikan oleh para politisi yang mayoritas kaum laki-laki. Jadi menurut hemat penulis, representasi keterwakilan perempuan (politisi) di dalam lembaga legislatif bukan hanya dilihat dari kuantitasnya saja, akan tetapi eksistensi mereka di lembaga legislatif. Wallahu a’lam.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 13, 2011 in artikel

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: