RSS

Mengukir sejarah dengan pena

Tulisan lama, di muat di rubik opini harian Satelit pos 15 Maret 2012.Moga bermanfaat :)

Menulis adalah suara nurani. Menulis segala apa yang menjadi perhatian, dan ketertarikan kita. Biasanya sesaui dengan basic si penulis, penulis yang berasal dari kalangan sosial akan cenderung tertarik menulis hal-hal yang bersinggungan dengan aktivitasnya atau yang menjadi fokus perhatiannya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan seseorang menulis diluar pengaruh komunitas atau lingkungan dia berasal. Sebenarnya tidak sebatas menyuarakan suara nurani kita saja, menulis bukan semata mata menghasilkan tulisan yang menarik, tetapi menghasilkan tulisan yang memiliki manfaat. Ada value yang dibawa pada tulisan kita. Nilai yang ingin kita sapaikan pada khalayak ramai.

Pernyataan menarik dituliskan Buya Hamka, Kekajaan apakah jang akan kuberikan untuk memupuk revolusi ini? padaku hanja dua, pertama lidahku, kedua penaku.” Sementara itu Abdullah Azzam menuliskan, ”Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama dan merahnya darah para syuhada.” Begitu hebatnya kekuatan tulisan, hingga dapat mengubah mindset bahkan perilaku seseorang. Menulis adalah perjuangan, dan senjata yang kita punya adalah pena. Maka angkatlah pena kita sebagai bentuk perlawanan kita pada setiap kedzoliman. Lanjutbaca

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 27, 2012 in goresan pena

 

Ada cinta di Kelas Umar [part 1]

Alhamdulillah masih berkesempatan mengukirkan sejarah pada lembaran-lembaran blog ini setelah sekian lama vakum dari dunia per blog-an :) . Ini kisah tentang rumah ke dua ku, SDIT Alam Harum. Ghazy, begitu teman-teman memanggilnya. Anak sholeh kelas 3 Umar bin Khattab yang pinter banget ngeles’. Tak usah ditanya lagi soal keahliannya yang satu ini. Hampir seluruh guru yang pernah memasuki kelas ini mengetahuinya. Tak jarang tabiatnya ini membuat emosi para guru naik turun. Ia anak yang aktif, excellent tentu saja. Hafalannya diatas rata-rata temennya. Tapi yaa itu, ia menjadi master of ngeyel.

Masih teringat jelas saat kali pertama ku memasuki kelasnya mengampu PKn. Saat itu materinya adalah aku bangga menjadi anak Indonesia. Sontak lengkingan suaranya sampai melewati celah-celah dinding bambu kelas.

“Pkn ngga seruuu, aku ngga bangga jadi anak Indonesiaaaaa”, Serunya.

“Iyaa ngga seruu, membosankan”, sahut temannya. Seketika riuh suara memadati seisi kelas.

Ia menjadi provokator handal dalam banyak hal, tak hanya soal pelajaran, saat makan siangpun demikian. Huuft… tak bisa ku pungkiri, sempat juga down mendengarnya. Secara, aku menggelutinya empat tahun lebih. Dan selama itu pula, tak pernah terpikir oleh ku untuk menghadapi para kurcaci kecil seperti ini. Wajar saja, PKn yang sebagian besar materinya bersifat kognitif harus menyapa anak-anak di SDIT Alam yang memadukan konsep Islam, alam dan materi pelajaran. Ini tantangan baru, batinku.

“Kenapa ngga suka?”, tanyaku.

“PKn banyak nulisnya, bosan”, “aku ngga bangga jadi anak Indonesia”, lanjutnya.

“Kenapa ngga bangga?” tanyaku kembali.

“Banyak orang jahat, membunuh, suka korupsi”, jawabnya.

“Makanya, kalian musti jadi anak yang sholeh dan sholehah yang cinta ibu pertiwi”.

“Ibu pertiwi?”, Tanya nya.

“Iya, Indonesia adalah sang ibu pertiwi”.

Waktu terasa begitu lambat saat itu [maklum, perdana :) ] selengkapnya

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 27, 2012 in cawan inspirasi

 

Puisi [Renungan]

Tuhan 9cm

Oleh: Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

selengkapnya

 
Leave a comment

Posted by pada November 26, 2011 in Uncategorized

 

Merentas Jalan menuju Inspiring Teacher

Sekali lagi, ditemani rintikan hujan. Melewati senja kali ini, begitu mempesona. Meski secara kasat mata yang nampak hanyalah butiran-butiran hujan, aku tau senja tetap begitu menawan. Terserah kata mu, senja lagi senja lagi [#pengagum senja]. Ada yang berbeda dengan senja kali ini. apakah engkau tau, bahwa senja ini beberapa lembaran kisah yang tersimpan dalam satu cawan yang menjadi mozaik kehidupan ku mulai berterbangan. Melayang, jauh ke masa silam.

“Assalamu’alaykum za, tadi aku ke sekolah kita dulu. Ketemu Mr. B dan minta nomer HP mu. hmm dasar anak kesayangan, hehee…”

Ku tatap layar di HP, sms mu kemarin malam baru sempat ku baca pagi tadi. Dan akhirnya sepagian kita smsan dan titik akhirnya adalah kau putuskan tuk mengunjungiku sore ini.

Baiklah, akhirnya kaupun datang seusai menunaikan tugas muliamu, mencetak generasi penerus bangsa. Tentu saja aku sangat bahagia, terakhir kita bertemu saat acara buka puasa bareng di Ramadhan istimewa kemarin. Tapi, tak kusangka kali ini kau membawa kunci yang membuat lembaran-lembaran kisahku terbang ke masa silam bersama segumpal kisah perjalananmu. :) selengkapnya

 
4 Comments

Posted by pada November 10, 2011 in Uncategorized

 

Setetes Renungan dalam Rintik Hujan

Allah maha Adil, tak pernah dZalim.. jiwaku ada dalam genggamanNya…

Setiap pilihan yang kita ambil, kita kan mempertanggungjawabkannya..

Perihal yang telah tertulis di lauh mahfudz : Ajal, Rizqi, Amal, menjadi orang yang celaka/beruntung.

Tetang ajal, bersyukurlah kita tidak tahu, maka rencanakanlah. Jujurlah pada cita-cita kita.

Sepertihalnya Umar bin khatab..yang merencanakan ajalnya syahid di tanah nabi. Maka

Rencanakanlah ajal kita, bukan hanya mengemas mimpi dunia..

Seseorang akan mati dengan kebiasaanya. Bila kebiasaannya dengan hal-hal yang baik, nantikanlah dalam perkara-perkara yang baik.

Tentang iman, menunggu bisa jadi menjadi penguji iman kita. Iman tidak menjamin kita pada posisi bahagia, namun iman menjadikan kita dalam kelembutan kasih sayang Allah.

Menantinya Ibrahim dan Zakariya akan kehadiran seorang anak menjadi penguji keimanan.

Penantian + Do’a = Rahmat

Logika tentang cepat-lambatnya akan dikabulkan do’a kita, Bisa jadi demikian,

Apabila ada seorang pengamen yang dendang lagunya tidak kita sukai, suaranya seakan memekikan telinga.. seringkali kita cepat-cepat memberinya uang agar pengamen itu cepat pergi dari hadapan kita. Dan ketika ada seorang pengamen yang lantunan lagunya enak di dengar, suaranya indah apalagi kalau pas banget dengan nuansa hati kita, seringkali kita memperlama dalam memberinya uang karena lantunan lagunya, biar ia ngga cepat-cepat pergi. Nah bisa jadi Allah memperlama mengabulkan do’a kita karena Dia menyukai hambaNya yang bermunajat…

Saudaraku… skenario Allah tetap yang paling indah, sebagai hambaNya kita dituntut untuk senantiasa berikhtiar, perkara hasil kita pasrahkan padaNya…

tetaplah Optimis Sampai Finish…!!!

                                                                         Purbalingga, 13 Dzulhijjah 1432H

 
Leave a comment

Posted by pada November 9, 2011 in Uncategorized

 

Idul adha, Lovely moment

“Riiin….bangun, ayo shalat subuh”, terdengar suara ibu sembari mengetuk lirih pintu kamarku.

“nggih Bu”, jawabku singkat.

Perlahan ku beranjak mengambil air wudhu, dan menunaikan shalat 2 raka’at bersama fajar yang kian menyingsing.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar

Laa ilahailallahu huwa Allahu akbar

Allahu akbar walillahil hamd

Sayup-sayup terdengar gema takbir dari  masjid ujung desa.

Hari ini hari raya kurban, Idul Adha. Pasca sholat subuh, semua penghuni rumah bersiap menunaikan shalat Ied. Mempersiapkan diri menyambut hari besar  ini. Tidak ketinggalan alan’ cucu pertama ibu yang ikut sibuk memilah dan memilih baju yang mau dikenakannya ke masjid. Anak kecil yang masih duduk di bangku TK ini ikut-ikutan meramaikan riuhnya pagi kami. Ngelihatnya bikin gemes, Ingat beberapa waktu yang lalu, kala ibunya memarahinya karena ngga mau makan malah lari-lari. Tau ibunya lagi marah, bukannya takut dan nurut makan malah perlahan mendekati ibunya seraya berkata.

“Ibu, laa taghdhob walakal jannah”, katanya innocent.

Kontan saja bikin kami semua tertawa. Orang lagi dimarahin kok malah berdalil, jann…

Cucu kesayangan ibu yang sebentar lagi milad ini memang lagi suka menghafalkan hadits-hadits pendek yang diajarkan di sekolahnya.

selengkapnya

 
2 Comments

Posted by pada November 8, 2011 in Uncategorized

 

Menjadi Pemuda Harapan

Gaung semangat para pemuda Indonesia telah menggema dan bergelora sejak 83 tahun yang lalu. Di saat para pemuda mengikrarkan diri dalam satu sumpah, sumpah pemuda 28 oktober 1928. Sebagai wujud kesatuan cita-cita. Mereka yang tidak menghitung-hitung apa yang telah negeri ini berikan padanya, tetapi bepikir apa yang bisa mereka lakukan untuk negeri tercinta ini. Mereka yang senantiasa bersatu padu mengubah nasib negeri menuju kemenangan ‘merdeka’.
Namun semangat itu kini telah pudar, bahkan hilang. Kemenangan ‘merdeka’ yang dulu diperjuangkan dengan harta dan jiwa kini hanya menjadi penghias buku-buku sejarah. Itupun kalau masih diceritakan secara gambalang bagaimana perjuangan berat para pahlawan dalam meraih kemenangan ‘merdeka’ demi tujuan mulia membebaskan negeri. Bahwa negeri ini lahir bukan tanpa pengorbanan, atau tanpa derita rakyat yang berkepanjangan. Fakta-fakta ketangguhan para pemuda dalam membawa negeri ini dari negeri jajahan hingga menjadi negeri yang merdeka bukan menjadi omong kosong belaka.
selengkapnya

 
2 Comments

Posted by pada Oktober 28, 2011 in Uncategorized

 

Edisi Buah Belimbing

Senja menawan kali ini kita habiskan bersama… menatap asa penuh obsesi. Bisa jadi moment seperti ini akan kita rindukan kelak kawan, saat kita tak lagi berjua bahkan tak sempat lagi bersua. Telah berlayar menuju pelabuhan masing-masing. Kita akan merindukan saat-saat seperti ini. Di atas rumput nan hijau, di bawah rerimbunan pepohonan, kita bersama meperbincangkan masa depan. Ku lihat rona wajah kalian nampak cerah menembus asa yang tak berujung.

Membincangkan tentang mimpi, “warisan”, lilin, peluh,… tiap kita punya cerita. Sejenak terhenyak dari suasana, pikiran melayang jauh ke angkasa merasakan nuansa lain bernama romantisme ukhuwah. Skenario Allah yang mempertemukan kita, melalui pintu amanah. Jadi, apapun yang terjadi smoga tali ukhuwah ini akan tetap erat meski kita tak lagi satu amanah, satu kampus, satu domisili. Jauh dari itu, tali ukhuwah ini kan mengiringi jejak perjalanan kita.

Ditemani buah belimbing orange nan segar, satu sama lain mengungkap segala isi dalam kalbu. Seperti Buah belimbing yang sejatinya memiliki khasiat mencegah pengerasan hati (hepatitis) dengan pektin di dalamnya, kita memiliki pualam ukhuwah yang kan menjaga dan meluluhkan tiap hati kita, berbagi dalam suka dan duka. Kawan, harapannya ini bukan sekedar ilusi dan wacana. Namun aksi yang akan kita rengkuh, selagi kita masih bersama merajut mimpi, mari berkarya para pejuang pena, wujudkan mimpi kita.

 Gapura, 8 Juni 2011

 
4 Comments

Posted by pada Juni 8, 2011 in Uncategorized

 

(Rindu) Pelukan Ayah

Dalam dekapan subuh yang senyap

Bayangmu hadir menemani pesona fajar

Tanpa rasa, tanpa asa

Laksana daun yang berguguran

Ayah…

Semua bagai mimpi yang tak berujung

Lebih dari separuh usiaku

Merindukan pelukanmu

Ayah…

Semua goresan dihati tlah hilang

Menemukan mu tak lagi berada di ruang hati

Tanpa rasa, tanpa asa

Kehampaan yang kian membuncah

Menertawaiku

Menyusuri kesendirian yang kian pilu

Tenggelam dalam kenestapaan

Lereng Merapi, 3 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by pada Juni 4, 2011 in Uncategorized

 

Menyoal Eksistensi Politisi Perempuan

Bergulirnya Era Reformasi menjadi angin segar bagi kaum perempuan untuk terjun dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Betapa tidak, selama ini peran politik kaum perempuan masih sangat minim. Berbagai kendala seperti kultur yang berkembang di masyarakat, budaya patriarkhi yang mengakar dan mendominasi dalam segala aspek kehidupan, perempuan yang masih dipandang sebelah mata karena mengutamakan perasaan sehingga jauh dari sikap rasionalitas. Pandangan-pandangan demikianlah yang selama ini melekat dan telah terstruktur di negeri ini.

Tidak heran apabila kebijakan-kebijakan yang dikeluarkanpun cenderung mengabaikan persoalan perempuan, jaminan sosial, kesehatan reproduksi dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Berbagai permasalahan yang menyangkut perempuan seperti eksploitasi perempuan, jaminan kesehatan ibu hamil dan melahirkan, perdagangan perempuan, kekerasan terhadap perempuan, persoalan TKW yang seringkali mendapat perlakuan tidak manusiawi, pendidikan kaum perempuan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya masih menjadi polemik besar di Indonesia.

Dalam ranah inilah, dibutuhkan adanya partisipasi politik perempuan. Peran besar perempuan dalam membenahi dan mempengaruhi berbagai kebijakan yang akan dilandingkan telah menjadi hal yang penting. Untuk itulah eksistensi politisi perempuan di lembaga legislatif menjadi faktor penting dalam mewujudkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh kaum perempuan. Apalagi sudah lama perempuan mengalami keterjajahan di bidang pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh (Media Indonesia, edisi 11 okt 2010).

selengkapnya

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 13, 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.